Senin, 29 June 2026 04:00 UTC
Warga memprotes kerusakan jalan penghubung Demangan-Ngabar dengan cara mencoret di titik lubang. Aksi ini diharapkan segera mendapat penanganan dari Pemkab Ponorogo, Senin, 29 Juni 2026. Foto: Satria.
JATIMNET.COM, Ponorogo – Kerusakan akses akses jalan yang menghubungkan Desa Demangan – Pondok Ngabar, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo memantik reaksi warga.
Mereka yang kesal dengan kondisi itu melakukan protes dengan cara menuliskan aspirasinya di beberapa titik jalan berlubang.
Tulisan bernada sindiran dan kritik itu menggunakan cat semprot warna putih. Tulisan yang muncul pun beragam, mulai dari “Awas Lobang Janda”, “Pajek Mundak Dalan Rusak Cok”, hingga sindiran yang ditujukan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo dengan tulisan “Bunda Lisdya Aku Butuh Belaianmu”.
Meski menjadi perhatian para pengguna jalan, warga sekitar mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa yang membuat tulisan-tulisan tersebut. Coretan diketahui muncul pada Minggu malam dan baru disadari warga keesokan harinya, Senin, 29 Juni 2026.
“Ditulisi sejak kapan saya juga tidak tahu. Tahu-tahu pagi sudah ada tulisan itu. Yang jelas jalan ini memang sudah lama rusak,” ujar Erwin, warga Desa Demangan.
Menurut warga, kerusakan jalan tersebut bukan persoalan baru. Kondisinya bahkan disebut sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa perbaikan menyeluruh dari pemerintah.
Lubang-lubang besar tampak tersebar di sejumlah titik. Bagian paling parah berada di sisi barat ruas jalan yang menjadi akses utama menuju Pondok Ngabar tersebut.
Ketua RT setempat, Agus Triyono, menyebut kemunculan tulisan itu merupakan bentuk keresahan warga yang selama ini merasa aspirasinya belum mendapat perhatian.
“Ini inisiatif warga sekitar untuk menyuarakan suara hati masyarakat. Kondisi jalan sudah lama seperti ini dan belum ada perbaikan yang benar-benar tuntas,” katanya.
Agus menjelaskan, beberapa bulan lalu warga sempat bergotong royong memperbaiki jalan secara swadaya. Mereka mengumpulkan semen dan material lain untuk menutup lubang yang ada.
Namun, upaya tersebut hanya bertahan sementara. Setelah beberapa waktu, tambalan kembali rusak akibat tingginya volume kendaraan yang melintas.
“Warga pernah kerja bakti menambal jalan secara swadaya. Ada yang menyumbang semen, ada yang menyumbang pasir. Tapi sekarang sudah rusak lagi,” ungkap Agus.
Menurutnya, kerusakan jalan diperkirakan telah terjadi selama lebih dari lima tahun. Meski pernah mendapat penanganan berupa tambal sulam, kondisi jalan hingga kini masih jauh dari layak.
Selain mengganggu kenyamanan pengguna jalan, lubang-lubang di ruas tersebut juga disebut kerap memicu kecelakaan.
“Sering terjadi kecelakaan. Beberapa waktu lalu ada pengendara sampai patah kaki setelah terperosok ke lubang,” ungkap Agus.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan perbaikan permanen agar jalan yang menjadi akses penting bagi masyarakat dan para santri menuju Pondok Ngabar itu kembali aman dilalui.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, coretan-coretan bernada kritik tersebut masih terlihat jelas menghiasi sejumlah titik jalan yang berlubang.
