Logo

Terdampak Konflik di Timteng, 85 Persen Perjalanan Kapal Internasional Terlambat

,

Selasa, 03 March 2026 14:00 UTC

Terdampak Konflik di Timteng, 85 Persen Perjalanan Kapal Internasional Terlambat

Kondisi pelabuhan di PT Terminal Teluk Lamong Surabaya, Selasa, 3 Maret 2026. Foto: Humas PT Terminal Teluk Lamong

JATIMNET.COM, Surabaya – Konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah mulai berdampak terhadap arus pelayaran internasional.

Direktur PT Terminal Teluk Lamong David P. Sirait mengatakan bahwa sekitar 85 persen kapal internasional mengalami keterlambatan perjalanan. Pemicunya, setiap layanan pelayaran memiliki window kedatangan mingguan yang ketat.

“Mayoritas servis itu weekly. Ketika ada gangguan di rute global, otomatis jadwal bergeser,” katanya, Selasa, 3 Maret 2026.

Meski demikian, David mengungkapkan, kinerja terminal petikemas di Surabaya disebut masih relatif stabil. Keterbatasan draft alur pelayaran di Surabaya memang menjadi faktor teknis yang perlu diperhatikan.

Saat ini kapasitas Surabaya dibatasi draft maksimal sekitar 13,5 meter, sementara dermaga Teluk Lamong berada di kisaran minus 14 meter.

“Kalau kapal long haul ke Eropa atau Amerika itu biasanya di bawah 16 meter. Dengan kondisi yang tidak bisa lewat Terusan Suez dan harus memutar, tentu ada dampaknya,” ujar David.

Di tengah memanasnya konflik di Timur Tenngah, arus ekspor-impor ke kawasan Timur Tengah dan India, dinyatakannya masih menunjukkan tren positif.

Terminal Teluk Lamong mencatat pada tahun lalu sekitar 30 ribu TEUs langsung ke Middle East, sedangkan target tahun ini 75 ribu TEUs dengan rata-rata pengiriman 1.000–1.500 TEUs per minggu.

David menambahkan, dalam tiga bulan terakhir terdapat tambahan layanan baru, termasuk dari Evergreen yang membuka rute langsung ke Timur Tengah dan India subcontinent.

Meski volume meningkat, potensi kapal melakukan omit call (batal singgah) tetap ada, tergantung strategi pelayaran.

“Kalau volumenya kecil, mereka bisa omit untuk mengejar jadwal berikutnya. Ada yang omit di Semarang, Jakarta, bahkan Surabaya,” kata David.

Ia menjelaskan satu putaran layanan bisa memakan waktu hingga 42 hari dan membutuhkan sekitar tujuh kapal. Jika terjadi gangguan di kawasan Middle East, operator bisa menambah kapal ad hoc atau justru melewati pelabuhan tertentu.