Sabtu, 29 August 2026 18:51 UTC
Para Peserta saat Menampilkan Pertunjukan Cerita Daerah. Foto: Zulafif
JATIMNET.COM,– Pemerintah Kabupaten Probolinggo menjadikan Probolinggo Sae Carnival (PSC) 2026 sebagai ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat. Karnaval tersebut mengangkat adat istiadat, kearifan lokal, hingga berbagai cerita rakyat yang berkembang di desa dan kecamatan di Kabupaten Probolinggo.
Pemkab Probolinggo menggelar PSC 2026 bersama EHA Production. Sebanyak 17 peserta ambil bagian dalam kegiatan tersebut dengan latar belakang beragam, mulai dari pelajar, organisasi perangkat daerah (OPD), hingga kontingen dari unsur corporate social responsibility (CSR).
Para peserta menghadirkan berbagai konsep kreatif yang mengangkat identitas dan potensi budaya lokal. Mereka antara lain menampilkan kisah Prabulinggih, Cindelaras, Ronggojalu, dan Kembang Genggong yang menjadi bagian dari cerita rakyat dan kekayaan budaya Probolinggo.
Rangkaian karnaval dimulai dari kawasan Alun-Alun Utara Kraksaan, tepatnya di depan Rumah Dinas Bupati Probolinggo. Dari titik tersebut, seluruh peserta bergerak menuju garis finis di Masjid Darus Salam, Desa Patokan, Kecamatan Kraksaan.
Bupati Probolinggo Mohammad Haris mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan PSC 2026. Ia menilai kegiatan tersebut tidak sebatas menyuguhkan pertunjukan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal keberagaman budaya yang dimiliki daerah.
“Alhamdulillah, saya bahagia sekali melihat acara ini. Saya memberikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah menghadirkan Probolinggo Sae Carnival 2026,” ujar Haris, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Haris menilai keberagaman Indonesia menjadi alasan kuat untuk terus mengenalkan budaya lokal. Ia mengatakan masih banyak budaya daerah yang belum diketahui masyarakat secara luas sehingga membutuhkan ruang untuk diperkenalkan.
“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki sekitar 1.340 suku dan sekitar 718 bahasa daerah. Ada budaya yang sudah dikenal secara nasional, tetapi ada juga budaya yang secara minor harus kita perkenalkan dalam acara-acara seperti ini,” katanya.
Menurut Haris, PSC 2026 tidak bertujuan mempertontonkan kemewahan. Ia ingin karnaval tersebut menjadi wadah yang memperlihatkan keberagaman sekaligus memperkuat rasa kebersamaan masyarakat.
“Ini bukan tentang glamor, bukan tentang sesuatu yang harus kita pamerkan berlebihan. Tetapi ini adalah sebuah kebersamaan, sebuah kemajemukan yang memang harus kita sampaikan kepada masyarakat agar masyarakat bisa mengenal lebih jauh budaya Nusantara, budaya bangsa kita,” tuturnya.
Ia menegaskan keberagaman harus menjadi modal untuk memperkokoh persatuan. Haris mengaitkan pesan tersebut dengan momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang turut mewarnai pelaksanaan PSC 2026.
“Lebih banyak suku kita, lebih banyak bahasa kita, kita mencoba merangkai sebuah kebersamaan bangsa ini dengan utuh. Apalagi ini adalah momen hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-81,” jelasnya.
PSC 2026 juga berlangsung bertepatan dengan momentum bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Haris berharap masyarakat dapat mengambil nilai keteladanan dari momentum tersebut, terutama dalam membangun sikap saling memaafkan dan menjaga persatuan.
Ia turut mengingatkan bahwa tagline “Probolinggo Sae” harus memiliki makna yang lebih luas. Menurut Haris, slogan tersebut tidak semestinya hanya muncul dalam setiap agenda pemerintah daerah, tetapi harus menjadi semangat bersama dalam membangun Probolinggo.
“Budaya ini memberi kita akar, tetapi kreativitas memiliki sayap dan persatuan menentukan seberapa jauh kita dapat terbang,” ungkapnya.
Haris berharap pesan mengenai keberagaman dan kebersamaan yang muncul melalui PSC 2026 dapat terus berkembang. Ia ingin semangat tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk membangun Kabupaten Probolinggo.
“Tagline Probolinggo Sae ini tidak hanya sekadar dipetikkan setiap kali kita punya agenda. Ada satu doa dan harapan besar bahwa Probolinggo yang selama ini berangkat dari rapor merah, kita lakukan secara bersama-sama. Itulah sejatinya bangsa Indonesia, di tengah banyaknya keragaman dan perbedaan, kita bersatu,” pungkasnya.
