Logo

Muktamar NU 2026 Mulai Memanas, Pengurus PCNU Diduga Jadi Korban Kekerasan

,

Sabtu, 29 August 2026 12:42 UTC

Muktamar NU 2026 Mulai Memanas, Pengurus PCNU Diduga Jadi Korban Kekerasan

Konfrensi pers KH Abdussalam Shohib Sabtu, 29 Agustus 2026. Foto: Istimewa

JATIMNET.COM, Jombang – Pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, diwarnai dugaan kekerasan fisik terhadap seorang pengurus Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).

Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, membenarkan adanya pengurus PCNU yang menjadi korban dugaan pemukulan. Ia mengatakan korban telah menjalani pemeriksaan medis dan visum untuk melengkapi laporan ke Polres Jombang.

“Ada salah satu teman kami dari daerah yang itu mengalami kekerasan oleh PWNU-nya, dan juga sudah dilaporkan ke polisi, Polres Jombang. Sebabnya karena mereka tidak mengikuti arahan Ahwa oleh PWNU-nya,” ujar Gus Salam dalam konferensi pers, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Menurut Gus Salam, korban mengalami pemukulan pada bagian kiri wajah. Ia mengatakan peristiwa tersebut telah dilaporkan kepada kepolisian dan kini diproses melalui jalur hukum.

“Tadi malam datang ke sini, dan ini tadi sudah visum. Dan kejadian ini patut dikecam. Ada kekerasan di tengah-tengah muktamar ini sangat memprihatinkan. Dipukuli, itu pengurus PC, dan kejadiannya di Jombang. Untuk detailnya siapa dan dari mana kami belum bisa menjelaskan ke publik, tapi yang jelas ini sudah dilaporkan ke polisi,” tegasnya.

Gus Salam menyebut dugaan kekerasan itu muncul di tengah memanasnya dinamika pemilihan Ketua Umum PBNU. Perbedaan pandangan mengemuka terkait mekanisme pemilihan, antara pihak yang menginginkan pemungutan suara secara langsung dan kelompok yang mendorong penggunaan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa).

Menurut dia, perbedaan pilihan mengenai mekanisme pemilihan kemudian berkembang menjadi dugaan tekanan terhadap sejumlah utusan daerah. Ia menyebut adanya dugaan pemaksaan kehendak oleh oknum pimpinan PWNU terhadap muktamirin yang tidak mengikuti arahan terkait sistem Ahwa.

“Akibat tekanan konflik tajam PBNU di daerah Muktamar, terdapat intimidasi struktural atas nama kuasa PBNU, kepanitiaan dan atau pejabat negara terjadi masif di Muktamar,” kata Gus Salam.

Selain dugaan kekerasan fisik, Gus Salam menyoroti dugaan tekanan psikologis terhadap sejumlah muktamirin. Ia menyebut peserta yang berasal dari PCNU, PWNU, hingga Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) luar negeri mengalami tekanan akibat dugaan praktik karantina.

Gus Salam menilai praktik tersebut berpotensi memengaruhi kondisi psikologis peserta. Menurut dia, tekanan semacam itu juga dapat mengganggu proses permusyawaratan dalam forum tertinggi NU.

“Karantina yang disertai dengan berbagai upaya-upaya yang tidak baik, yang dilakukan secara struktural dan berlebihan, tidak hanya menciptakan luka tapi juga membuat trauma dan juga membebani psikologis. Dan ini juga diketahui dan dirasakan oleh para masyayikh,” tuturnya.

Gus Salam menilai dugaan kekerasan dan tekanan terhadap peserta menjadi persoalan serius dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-35. Ia menegaskan forum permusyawaratan organisasi seharusnya berjalan secara santun, demokratis, dan tetap menjunjung tinggi adab.

Ia juga menyatakan komitmennya mendorong rekonsiliasi di internal NU. Menurut Gus Salam, langkah tersebut diperlukan untuk mengembalikan marwah organisasi sekaligus menjaga independensi dalam setiap proses pengambilan keputusan.

“Saya Abdussalam Shohib dalam muktamar ini tidak hanya diperintah masyayikh, kiai sepuh NU pesantren untuk berikhtiar menjadi pemimpin PBNU dengan cara santun dan beradab, juga berbenah untuk misi mengembalikan marwah NU, ulama serta melakukan rekonsiliasi total dalam khidmah berjamaah NU dan ber-NKRI,” pungkasnya.