Jumat, 27 February 2026 13:20 UTC
no image available
JATIMNET.COM, Jember – Di tengah sidak Komisi D DPRD Jember, manajemen RSD dr. Soebandi memaparkan capaian kinerja yang diklaim mengalami peningkatan signifikan, baik dari sisi pendapatan maupun jumlah pasien.
Direktur RSD dr. Soebandi Jember, dr. I Nyoman Semita, menyampaikan bahwa pendapatan rumah sakit pada Januari 2026 mencapai Rp31,7 miliar. Angka tersebut meningkat sekitar 100 persen dibanding rata-rata 10 bulan sebelumnya yang berada di kisaran Rp15 miliar.
“Pendapatan Januari 2026 mencapai Rp31,7 miliar, meningkat sekitar 100 persen dibandingkan rata-rata 10 bulan sebelumnya yang berada di kisaran Rp15 miliar,” ujarnya saat audiensi sebelum rapat ditunda, Jumat, 28 Februari 2026.
Sepanjang 2025, total pendapatan rumah sakit tercatat Rp273 miliar. Manajemen memproyeksikan tren kenaikan berlanjut pada 2026 berdasarkan laporan awal tahun.
Dari sisi layanan, kunjungan rawat jalan kini menembus 1.300 pasien per hari atau naik 62,5 persen dibanding rata-rata tahun sebelumnya sebanyak 800 pasien per hari.
Layanan ortopedi meningkat 104 persen, onkologi 87,5 persen, serta tindakan operasi naik dari 800 menjadi 1.200 kasus per bulan. Tindakan kateterisasi jantung juga melonjak 169 persen dari 65 menjadi 175 kasus.
Nyoman menjelaskan bahwa tingginya angka layanan dipengaruhi peran rumah sakit sebagai rujukan regional Tapal Kuda. Banyak pasien datang dalam kondisi sudah kritis sehingga memerlukan penanganan intensif dan berdampak pada biaya operasional.
“Maaf kalau saya datang agak terlambat karena baru selesai mengoperasi pasien rujukan dari Banyuwangi yang lumpuh. Gambaran tiap hari seperti itu, pasien yang sudah parah dikirim ke sini. Dampaknya biaya operasional membengkak,” jelasnya.
Lonjakan pasien berdampak pada tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) yang berada di kisaran 85 hingga 100 persen. Sejumlah ruang rawat inap bahkan melebihi kapasitas, sementara ruang paviliun dilaporkan selalu penuh dalam beberapa pekan terakhir.
“Di instalasi gawat darurat, jumlah pasien emergensi meningkat dari 45 menjadi 80 kasus per hari, bahkan pernah mencapai 112 kasus dalam sehari dengan 40 pasien harus menunggu kamar rawat inap,” ujarnya.
Manajemen rumah sakit menyatakan akan terus melakukan pembenahan, seiring sorotan DPRD terhadap aspek tata kelola dan transparansi data keuangan.
