Logo

Akademisi: Daya Saing Kawasan Industri Ditentukan Tata Kelola Lingkungan Berbasis Data

,

Selasa, 30 June 2026 13:36 UTC

Akademisi: Daya Saing Kawasan Industri Ditentukan Tata Kelola Lingkungan Berbasis Data

Suasana penanaman 1.000 bibit mangrove, melepas 1.000 benih ikan, serta 100 benih kepiting di kawasan Kalimireng. Foto: Agus Salim

JATIMNET.COM, Gresik – Pengelolaan lingkungan yang didukung data dan pemantauan berkelanjutan dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing kawasan industri. Di tengah derasnya arus investasi dan tuntutan pembangunan berkelanjutan, tata kelola lingkungan yang kredibel menjadi salah satu indikator utama bagi dunia usaha.

Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang diselenggarakan PT Berlian Jasa Terminal Indonesia Industrial Estate (BKMS) selaku pengelola Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) bersama Pemerintah Kabupaten Gresik dan sejumlah pemangku kepentingan, Selasa, 30 Juni 2026.

Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, menegaskan bahwa peringatan Hari Lingkungan Hidup tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, momentum tersebut harus diwujudkan melalui aksi nyata yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

"Sinergi pemerintah, industri, dan masyarakat telah diwujudkan melalui rehabilitasi pesisir dengan penanaman mangrove serta perlindungan jaminan sosial bagi nelayan," katanya.

Guru Besar Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Eddy Setiadi Soedjono, menilai kondisi lingkungan di kawasan industri tidak bisa disimpulkan hanya berdasarkan satu indikator ataupun hasil pengamatan sesaat. Ia menekankan pentingnya pemantauan secara berkelanjutan agar kebijakan yang diambil benar-benar berbasis bukti ilmiah.

"Dibutuhkan monitoring jangka panjang, data berkala, dan kajian multidisiplin agar kebijakan lingkungan bersifat objektif dan berkelanjutan," terangnya.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik, Sri Subaidah. Ia mengapresiasi program penanaman ribuan bibit mangrove di kawasan Kalimireng yang dinilai mampu menekan laju abrasi sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat pesisir.

Sebagai bentuk implementasi komitmen terhadap pengelolaan lingkungan, JIIPE secara rutin melakukan pemantauan kualitas lingkungan melalui laboratorium yang telah terakreditasi sesuai dengan ketentuan pemerintah.

Dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, JIIPE juga melaksanakan penanaman 1.000 bibit mangrove, pelepasan 1.000 benih ikan, serta 100 benih kepiting di kawasan pesisir Kalimireng.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gresik, Arief Witjaksono, berharap kegiatan rehabilitasi tersebut mampu meningkatkan produktivitas sektor perikanan sekaligus mendukung kesejahteraan nelayan di wilayah pesisir.

Selain menjalankan program rehabilitasi ekosistem, JIIPE terus memperkuat infrastruktur pengelolaan lingkungan dengan mengoperasikan fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Fasilitas tersebut juga direncanakan berkembang menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) sebagai bagian dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Direktur BKMS, Bambang Soetiono, menegaskan bahwa daya saing kawasan industri di masa depan tidak hanya bergantung pada kelengkapan infrastruktur maupun besarnya investasi yang masuk. Menurutnya, kualitas tata kelola lingkungan juga menjadi faktor penentu kepercayaan investor.

"Juga oleh kredibilitas tata kelola lingkungan yang didukung monitoring berbasis data, infrastruktur memadai, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan," tukasnya.