Logo

Usai Jadi UNUMA, Kemenag Minta Kampus Perkuat SDM dan Kejar Akreditasi Unggul

,

Jumat, 28 August 2026 14:05 UTC

Usai Jadi UNUMA, Kemenag Minta Kampus Perkuat SDM dan Kejar Akreditasi Unggul

Dirjen Pendis Kemenag, Prof Suyitno saat menyerahkan SK peralihan IAINU ke UNUMA Tuban di Aula KH. Hasyim Asyari pada Jumat, 28 Agustus 2026. Foto: Zidni Ilman

JATIMNET.COM, Tuban – Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Prof. Suyitno meminta Universitas Nahdlatul Ulama Makhdum Ibrahim (UNUMA) memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) setelah resmi beralih bentuk dari Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban.

Suyitno menyampaikan pesan tersebut saat menghadiri penyerahan Surat Keputusan (SK) perubahan bentuk IAINU Tuban menjadi UNUMA di Aula KH Hasyim Asy’ari, Rektorat IAINU Tuban, Jumat, 28 Agustus 2026.

Menurut Suyitno, perubahan status menjadi universitas harus diikuti peningkatan kualitas akademik. Dia meminta UNUMA membangun tradisi kampus yang kritis dan mampu merespons persoalan masyarakat.

"Tuban punya Ronggolawe yang menjadi contoh pejabat kritis, maka UNUMA juga harus menjadi kampus yang kritis. Kalau kampus sudah tidak mau berfikir kritis lalu masyarakat harus berkiblat ke mana,’’ katanya. 

BACA: IAINU Tuban Resmi Naik Status Jadi UNUMA

Suyitno mengingatkan bahwa universitas memiliki tanggung jawab akademik yang lebih luas dibandingkan sekolah atau madrasah. Perguruan tinggi tidak boleh hanya mengandalkan kegiatan pembelajaran, tetapi juga wajib mengembangkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

"Kalau kampus harus ada riset, kalau ada kampus dosennya hanya mengajar saja, tidak ada riset, tidak ada PKM maka itu kampus rasa sekolah, rasa madrasah,’’ urainya.

Karena itu, Suyitno mendorong para dosen UNUMA terus meningkatkan kapasitas dan kualifikasinya. Dia menilai penguatan SDM menjadi salah satu kunci untuk membangun reputasi dan daya saing perguruan tinggi.

Suyitno bahkan menyebut UNUMA setidaknya membutuhkan tujuh guru besar. Menurutnya, keberadaan guru besar bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi menjadi kebutuhan untuk memperkuat kapasitas institusi.

Dia juga mengingatkan pentingnya menjaga akreditasi kampus dan program studi. Menurutnya, kualitas akademik menjadi salah satu pertimbangan utama ketika perguruan tinggi membangun kemitraan dengan kampus lain.

"Kalau mau bermitra dengan kampus lain, kalau mau kerjasama selalu ditanya akreditasimu apa? Maka harus unggul. Walaupun negeri kalau tidak unggul masih di bawah swasta. Kalau akreditasi masih baik itu minimalis, jadilah kaum maksimalis. Jadi setelah SDM harus mengawal akreditasinya,’’ harapnya.

BACA: Mahasiswa Manajemen Dakwah IAINU Tuban Launching Perpustakaan Masjid dengan 500 Buku 

Suyitno menilai perguruan tinggi tidak lagi cukup mengandalkan status negeri atau swasta untuk membangun daya saing. Kualitas akreditasi menjadi salah satu ukuran yang semakin penting, termasuk pada tingkat program studi.

"Sekarang tidak melihat negeri atau swasta tapi apa akreditasinya, akreditasi prodinya dam sebagainya,’’ tandasnya.

 

UNUMA Dituntut Perkuat Tradisi Akademik

Perubahan bentuk IAINU menjadi UNUMA, menurut Suyitno, harus menjadi momentum untuk memperluas kapasitas akademik. Kampus perlu memastikan peningkatan status kelembagaan berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas dosen dan kegiatan akademik.

Selain meningkatkan jumlah dan kualifikasi dosen, UNUMA perlu memperkuat penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Kedua kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari peran perguruan tinggi dalam memberikan manfaat kepada masyarakat. 

Suyitno berharap seluruh unsur kampus menjadikan perubahan status sebagai titik awal untuk membangun UNUMA yang lebih unggul. Dia juga mendorong kampus tidak berhenti pada pencapaian perubahan bentuk, tetapi terus mengejar peningkatan kualitas secara berkelanjutan.