Rabu, 01 July 2026 00:00 UTC
Ilustrasi: Taman Bungkul park in Surabaya (Pict: Dx Gen-ai)
JATIMNET.COM - Ruang publik kini memiliki peran yang jauh lebih besar dibanding sekadar tempat singgah. Di berbagai kota, terutama Surabaya, taman kota, jalur pedestrian, plaza terbuka, hingga kawasan tepi sungai berkembang menjadi ruang bertemu, berolahraga, belajar, bekerja, sekaligus membangun interaksi sosial.
Perubahan ini menunjukkan bahwa kualitas sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh gedung-gedung tinggi, tetapi juga oleh ruang bersama yang nyaman digunakan semua kalangan.
Fenomena tersebut sejalan dengan meningkatnya urbanisasi di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 58,6 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan pada 2024, dan proporsinya diproyeksikan terus bertambah dalam beberapa dekade mendatang.
Pertumbuhan kota yang semakin padat membuat keberadaan ruang publik menjadi kebutuhan penting untuk menjaga kualitas hidup masyarakat.
Ruang Publik Menjadi Bagian dari Gaya Hidup Perkotaan
Bagi generasi muda, ruang publik menawarkan pengalaman yang sulit digantikan oleh ruang privat. Taman kota tidak lagi identik dengan tempat bermain anak, tetapi juga menjadi lokasi jogging, membaca buku, membuat konten kreatif, hingga mengadakan diskusi komunitas.
Surabaya menjadi salah satu contoh kota yang konsisten mengembangkan ruang publik. Kehadiran taman-taman tematik, jalur pejalan kaki yang semakin tertata, dan kawasan terbuka yang mudah diakses membuat aktivitas masyarakat tidak lagi terpusat di pusat perbelanjaan.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran gaya hidup. Banyak anak muda mulai mencari tempat yang nyaman untuk bersosialisasi tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Ruang publik menjadi alternatif yang inklusif karena dapat dinikmati siapa saja.
Mengapa Ruang Terbuka Semakin Dibutuhkan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan setiap warga kota idealnya memiliki akses menuju ruang hijau dalam jarak yang mudah dijangkau dengan berjalan kaki. Keberadaan ruang hijau terbukti berkaitan dengan meningkatnya aktivitas fisik, berkurangnya tingkat stres, serta membaiknya kualitas interaksi sosial masyarakat.
Di Indonesia, kebutuhan ruang terbuka hijau juga telah diatur melalui Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yang menetapkan target minimal 30 persen wilayah kota berupa ruang terbuka hijau, terdiri atas ruang publik dan ruang privat.
Angka tersebut bukan sekadar target administratif. Semakin padat sebuah kota, semakin besar pula kebutuhan masyarakat terhadap ruang yang memungkinkan mereka berjalan kaki, beristirahat, berolahraga, atau sekadar menikmati suasana tanpa tekanan lalu lintas maupun aktivitas komersial.
Bagi mahasiswa, pekerja muda, maupun keluarga, ruang publik menjadi tempat untuk mengurangi kejenuhan setelah menjalani rutinitas yang padat. Kehadirannya berkontribusi pada kualitas hidup sekaligus memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Surabaya Menunjukkan Wajah Kota yang Lebih Ramah
Dalam beberapa tahun terakhir, Surabaya dikenal sebagai salah satu kota yang aktif membangun taman kota, jalur pedestrian, serta ruang terbuka yang mudah diakses masyarakat.
Kawasan seperti Taman Bungkul, Taman Prestasi, hingga sejumlah koridor jalan yang semakin nyaman bagi pejalan kaki menunjukkan bahwa ruang publik telah menjadi bagian penting dari identitas kota.
Keberadaan ruang-ruang tersebut juga mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi skala kecil. Pedagang makanan, pelaku usaha kreatif, komunitas olahraga, hingga pelaku seni memperoleh ruang untuk berinteraksi dengan masyarakat tanpa harus bergantung pada pusat perbelanjaan.
Tidak kalah penting, ruang publik menciptakan kesempatan bertemunya berbagai kelompok masyarakat. Mahasiswa, pekerja, lansia, hingga anak-anak dapat menggunakan fasilitas yang sama tanpa adanya batasan ekonomi maupun sosial.
Kota yang Nyaman Dibangun dari Ruang Bersama
Banyak penelitian menunjukkan bahwa kota yang nyaman bukan selalu kota dengan gedung tertinggi atau pusat bisnis terbesar. Justru keberadaan ruang publik yang hidup menjadi indikator penting kualitas lingkungan perkotaan.
Ruang publik yang aktif menciptakan lebih banyak interaksi antarmanusia. Aktivitas berjalan kaki meningkat, komunitas tumbuh lebih mudah, dan masyarakat memiliki rasa memiliki terhadap lingkungannya.
Di tengah kehidupan yang semakin digital, ruang bersama menjadi pengingat bahwa hubungan sosial tetap membutuhkan pertemuan langsung.
Taman, plaza, jalur pedestrian, dan ruang terbuka lainnya menjadi tempat lahirnya percakapan, ide baru, hingga kolaborasi yang tidak selalu bisa digantikan oleh dunia virtual.
Ruang publik bukan hanya elemen pelengkap tata kota. Ia merupakan investasi sosial yang memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.
Ketika ruang publik dirancang dengan baik dan dimanfaatkan bersama, kota akan terasa lebih hidup, lebih inklusif, dan lebih nyaman untuk semua generasi.
