Logo

Membaca Buku Kembali Menjadi Aktivitas Santai

,

Sabtu, 18 July 2026 11:00 UTC

Membaca Buku Kembali Menjadi Aktivitas Santai

Ilustrasi: Menikmati waktu membaca. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Membaca buku mulai kembali mendapat tempat di tengah padatnya aktivitas digital. Bagi sebagian orang, akhir pekan bukan lagi sekadar waktu untuk bepergian, tetapi kesempatan memperlambat ritme hidup dengan menikmati beberapa halaman buku yang selama ini tertunda.

 

Kebiasaan sederhana ini menghadirkan pengalaman yang lebih tenang sekaligus memperkaya wawasan tanpa terasa melelahkan.

 

Data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menunjukkan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional tahun 2024 mencapai 72,44, masuk kategori tinggi.

 

Angka tersebut mengalami peningkatan dibanding beberapa tahun sebelumnya. Sementara itu, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2024 tercatat sebesar 73,52, menandakan akses masyarakat terhadap bahan bacaan dan layanan literasi semakin berkembang.

 

Perkembangan itu memperlihatkan bahwa minat membaca di Indonesia terus bergerak ke arah positif. Tantangannya bukan lagi sekadar menghadirkan buku, tetapi menyediakan waktu agar aktivitas membaca menjadi bagian dari rutinitas keluarga.

 

 

Membaca Memberi Ruang untuk Berpikir Lebih Mendalam

 

 

Arus informasi yang datang setiap hari membuat banyak orang terbiasa mengonsumsi bacaan singkat. Judul berita, unggahan media sosial, hingga pesan instan silih berganti memenuhi layar ponsel.

 

Buku menawarkan pengalaman yang berbeda. Pembaca diajak mengikuti alur cerita, memahami gagasan secara utuh, dan menikmati proses berpikir tanpa tergesa-gesa. Aktivitas ini membantu seseorang lebih fokus dibanding membaca potongan informasi yang terus berubah setiap menit.

 

UNESCO menempatkan literasi sebagai fondasi penting dalam pembelajaran sepanjang hayat. Kebiasaan membaca tidak hanya memperluas pengetahuan, tetapi juga membantu meningkatkan kemampuan memahami informasi dan mengambil keputusan berdasarkan pemahaman yang lebih baik.

 

Tidak mengherankan apabila banyak keluarga mulai menyediakan waktu khusus untuk membaca bersama pada Sabtu atau Minggu pagi.

 

 

Sudut Membaca Membuat Rumah Lebih Hidup

 

 

Rumah tidak memerlukan ruang perpustakaan yang besar agar kegiatan membaca terasa nyaman. Sebuah kursi dekat jendela, rak buku sederhana, pencahayaan yang baik, dan suasana yang tenang sudah cukup menciptakan sudut membaca yang menyenangkan.

 

Di Surabaya, semakin banyak ruang publik seperti taman kota, perpustakaan, hingga toko buku yang menyediakan area membaca yang nyaman. Kehadiran fasilitas tersebut memberi pilihan bagi masyarakat yang ingin menikmati buku di luar rumah tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

 

Suasana membaca juga menjadi lebih menarik ketika dilakukan bersama keluarga. Orang tua membaca buku favorit, anak memilih cerita bergambar, sementara anggota keluarga lain menikmati novel atau buku pengembangan diri. Aktivitas yang berbeda dapat berlangsung dalam ruang yang sama tanpa mengurangi kebersamaan.

 

 

Membaca Menjadi Alternatif Hiburan yang Berkualitas

 

 

Laporan DataReportal Digital 2025 menunjukkan rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 7 jam 22 menitper hari menggunakan internet. Sebagian besar waktu tersebut digunakan untuk media sosial, hiburan digital, dan komunikasi.

 

Kondisi tersebut membuat banyak orang mulai mencari aktivitas yang mampu memberikan keseimbangan. Membaca buku menjadi salah satu pilihan karena tidak dipenuhi notifikasi maupun perpindahan informasi yang terlalu cepat.

 

Selain memperkaya wawasan, membaca juga dapat memicu percakapan menarik di rumah. Setelah menyelesaikan sebuah buku, anggota keluarga bisa saling bertukar rekomendasi atau mendiskusikan tokoh serta gagasan yang mereka temukan. Suasana seperti ini membuat akhir pekan terasa lebih bermakna.

 

 

Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Literasi

 

 

Budaya membaca tidak tumbuh dari target menyelesaikan banyak buku dalam waktu singkat. Kebiasaan tersebut justru berkembang melalui rutinitas yang dilakukan secara konsisten.

 

Menyisihkan waktu sekitar dua puluh hingga tiga puluh menit setiap akhir pekan sudah menjadi langkah yang baik untuk menjaga kedekatan dengan buku. Pilihan bacaan pun dapat disesuaikan dengan minat masing-masing, mulai dari novel, biografi, sejarah, kuliner, hingga buku perjalanan.

 

Ketika orang tua memberi contoh membaca, anak-anak cenderung melihat aktivitas tersebut sebagai bagian alami dari kehidupan sehari-hari. Rumah pun berubah menjadi lingkungan yang mendukung rasa ingin tahu dan kebiasaan belajar sepanjang hayat.

 

Akhir pekan tidak selalu membutuhkan agenda yang padat agar terasa berkesan. Membaca buku menghadirkan kesempatan untuk menikmati waktu secara lebih tenang, memperluas perspektif, sekaligus menciptakan kebiasaan positif yang manfaatnya dapat dirasakan jauh melampaui dua hari libur.