Rabu, 26 November 2025 09:30 UTC
Tidak melupakan akar, seorang siswi tengah memberikan buket tanda rindu pada guru yang mendidik dan membimbingnya. Foto Mahfudz Efendi guru SD Almadany.
JATIMNET.COM, Gresik - Ketenangan kelas di SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (Almadany), Gresik pecah seketika. Ketukan lembut terdengar dari pintu luar kelas.
Seorang remaja berdiri di ambang pintu. Ia menenteng sebuah buket alat tulis yang dirangkai rapi. “Assalamu’alaikum, ustaz,” sapanya pelan.
Sapaan itu datang dari Indira Nahda Ramadhina, alumni tahun ajaran 2024/2025. Kehadirannya mengejutkan guru dan beberapa siswa yang masih berada di kelas.
Dengan senyum malu-malu, ia melangkah masuk dan menyerahkan buket itu. “Selamat Hari Guru, ustaz,” ucapnya saat pelajaran berlangsung, Rabu 26 November 2025.
Hadiah sederhana itu seketika menciptakan suasana haru. Bukan karena nilainya, tetapi jarang ada murid yang kembali hanya untuk mengucapkan terima kasih.
Kedatangan Indira karena rindu dengan suasana di SD Alam Muhammadiyah (Almadany) Gresik. Ia bercerita bahwa hari itu SMP Negeri 12 Gresik, tempatnya belajar memulangkan siswa lebih awal.
Kesempatan itu digunakannya untuk menyambangi sekolah yang telah menemaninya sejak kelas 1 hingga kelas 6. Selama tiga tahun, ia diasuh oleh ustaz yang sama.
Selama kelas 1, 4, dan 6, hubungan emosional dengan ustaz yang mengasuh tersebut terasa melekat. Hal ini mendorong langkah kaki Indira kembali melangkah pada ruang belajar yang telah mencipatakan banyak kenangan.
“Kalau guru SMP nggak boleh dikasih hadiah, takut ada konflik kepentingan. Jadi, saya kasih ke ustaz di SD saja. Meski terlambat sehari," katanya.
Ketika ditanya mengapa tidak memberi ke semua guru SD Almadany, Indira tertawa kecil. “Nanti nggak adil, ustaz karena kebanyakan. Diwakilkan ke ustazz saja,” jawabnya.
Meski perjalanan Indira di SMP baru berlangsung beberapa bulan, namun rekam jejaknya sudah menunjukkan perkembangan pesat. Ia telah menorehkan beberapa prestasi, tapi tetap tak melupakan akar.
Ia meraih juara 2 lomba cipta puisi, menjadi anggota pasukan bendera, aktif di OSIS, mengikuti paduan suara, hingga menari dalam kegiatan ekstrakurikuler.
“Bunda bilang nggak apa-apa ikut semua, dicoba selagi muda. Tapi, tetap nggak boleh lupa belajar,” ceritanya tak bisa melupakan kenangan SD ditengah rutinitas barunya.
“Kalau ustaz tahu saya menang lomba, pasti bangga,” ucapnya lirih sembari mengingat perhatian guru semasa SD yang dinilai sangat sayang pada murid.
Indira juga menyebut tak sendirian, ada Kanaya Bussaina Syafura, teman seperjuangannya di SD Almadany yang kini juga bersekolah di SMP Negeri 2 Gresik.
Setelah berbincang beberapa saat, Indira meminta izin untuk pamit. “Maaf ustaz, saya pulang dulu. Semoga ustaz-ustazah di Almadany sehat dan sukses selalu,” tuturnya dengan sopan.
Ia melangkah keluar menuju ke arah ayahnya yang tengah menunggu. Buket sederhana yang ditinggalkannya menjadi simbol kecil dari cinta besar yang tak putus oleh kelulusan.
Bagi guru-gurunya, hadiah itu bukan sekadar benda. Buket itu adalah pengingat bahwa pendidikan yang dilakukan dengan hati akan berbuah pada cara murid mengenang dan menghargainya.
Sebuah kunjungan singkat, namun cukup menghangatkan Hari Guru Nasional di SD Almadany yang jatuh pada 25 November 2025.
